BAWA KARYA DAN BUDAYA INDONESIA, TEMANKU LIMA BENUA HADIR DI FUKUOKA

Moestners, kalau ngomongin soal diplomasi antar negara, yang kebayang mungkin acara formal, pake jas rapi terus suasana yang cukup serius. Tapi, siapa sangka kalau permainan tradisional, batik, sampai sketsa wajah juga bisa jadi salah satu cara untuk memperkenalkan budaya Indonesia?
Hal ini dilakukan oleh seniman environmental art, Temanku Lima Benua atau yang akrab dipanggil Liben, sekaligus mahasiswa angkatan 2026 Magister Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), yang terus mengembangkan wawasan komunikasi melalui berbagai pengalaman dan ruang berkarya.
Lewat perjalanan dan pengalamannya di dunia seni, Liben mendapat kesempatan untuk hadir dalam acara Exhibition and Live Drawing bertajuk “Capturing From Indonesian Soul” di Fukuoka, Jepang, pada 1–5 Oktober 2026. Dalam salah satu agendanya, Liben juga menyampaikan speech bertema “Strategi Diplomasi Inklusif Budaya Indonesia” di hadapan para diplomat Indonesia dan Jepang.
Bukan cuma ngobrol soal budaya, Liben juga ngebawa permainan tradisional Indonesia, salah satunya gangsing. Permainan ini jadi cara yang lebih santai untuk memperkenalkan nilai seperti sportivitas, kejujuran, kebersamaan, dan persahabatan. Suasana yang awalnya formal pun jadi lebih cair karena para tamu ikut mencoba, tertawa, dan menikmati permainan tersebut.
Selain permainan tradisional, Liben juga memperkenalkan budaya Indonesia lewat karya seni bertema alam dan kucing. Ia menggunakan berbagai material seperti batik, kertas bekas, kain, arang, koran, hingga peta. Kucing dipilih karena punya makna budaya di Indonesia dan Jepang, sehingga bisa menjadi bahasa visual yang lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Yang menarik, Liben juga membawa identitas Indonesia lewat pakaian yang dikenakannya. Ia menggunakan batik bermotif kucing berwarna biru dan blangkon kuning dari Sulawesi. Lewat karya, permainan, hingga penampilannya, Liben mencoba menunjukkan kalau diplomasi budaya nggak harus selalu serius dan kaku. Budaya justru bisa dikenalkan dengan cara yang lebih dekat, seru, dan inklusif.
Kehadiran Liben di Fukuoka menjadi salah satu contoh bagaimana Gen Z bisa ikut mengambil peran dalam memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia. Dari permainan sederhana sampai karya seni, ternyata budaya bisa menjadi jembatan untuk membuat orang dari latar belakang berbeda saling mengenal. Jadi, siapa bilang diplomasi harus selalu formal?
Penulis : Sri Yurika
Sumber : wartakita.com
